Tampilkan postingan dengan label トモダチ. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label トモダチ. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Mei 2012

[Pocari Sweat Dance Cover] - MAT08



こんにちわ
Kita lagi ikutan [Pocari Sweat Dance Cover] hlo!
Dukung kita yaa!! Caranya :
1. Lihat video dance cover kita di atas lewat youtube, kalau bingung klik di sini.
2. Kalau suka, jangan lupa LIKE video kita ya!! 
Pastikan saat LIKE, kamu sudah login youtube, pakai akun gmail bisa lhooo!!!
Caranya klik tombol LIKE seperti gambar ini :


Terima kasihh!!! (^^,)

Rabu, 02 Februari 2011

NAOKI!!!

じぶん からだ ふく を そくていする


Naoki, sosok yang keren, rajin, baik hati, dan profesional. Itu yang gue tangkap setelah menyaksikan dorama Jepang yang berjudul Buzzer Beat. Memiliki nama lengkap Kamiya Naoki, tokoh yang diperankan oleh Yamashita Tomohisa ini adalah seorang pemain basket profesional yang berjuang keras untuk berprestasi di bidang yang ia tekuni. Dilengkapi dengan kehidupan asmaranya yang menarik, TV show yang tayang tahun 2009 ini lumayan layak tonton bagi para penggemar dorama.

Sifat dan kebiasaan dari Naoki ternyata tak jauh beda dengan gue dan teman gue. Dari segi tampang memang tidaklah mirip, tapi dari sifat dan kebiasaan baik sama boleh kan??

Teman gue dari Kamar Sebelah, dia sering sekali membantu orang saat berada di bus. Dia mampu mengalah untuk tidak duduk di kursi ketika dia melihat orang yang dia rasa lebih membutuhkan tempat duduk saat berada di bus. Tak jauh beda dengan Naoki bukan??

Sementara gue punya kebiasaan yang sama dengan Naoki, yaitu membawa telepon seluler saat mandi. Tentu lengkap dengan plastik bening untuk membungkusnya. Tak jauh beda dengan Naoki juga kan??

Yah, meskipun gue belum mampu menjadi orang yang baik seperti Naoki, setidaknya gue dan teman gue sudah ada kemiripan seperti Naoki. Haha…

Selasa, 18 Januari 2011

Owatta!!



この まち ぼこ まち ではありません。
Sebagian besar teman gue pasti sudah tahu kalau gue mengikuti suatu kompetisi yang diadakan oleh Pocari Sweat. Beruntungnya gue masuk sebagai 100 semifinalis yang harus membuat komik dari template yang sudah diberikan. Dan berikut hasilnya:

Akhirnya usaha dan penentian gue berakhir pada tanggal 17 Januari 2011 kemarin. Gue kalah di babak ini. Sekarang saatnya menemukan cara baru untuk pergi ke negeri sakura.
Terima kasih untuk semua teman yang telah membantu dan menyemangati gue. Maaf, ternyata gue harus terhenti dan gue belum bisa membalas kebaikan kalian.

Senin, 20 Desember 2010

キーロサギ。


かれ なまえ キーロサギ

ぼくら へや あたらしい メンバー。

Alkisah, gue dengan seorang teman dari Kamar Sebelah sedang berpetualang menelusuri lantai demi lantai sebuah pusat perbelanjaan di kota Solo. Tujuan utama adalah di lantai 4 untuk mononton film terbaru dari Harry Potter, yaitu film yang ketujuh.

Jam baru menunjukkan pukul 19.35 sedangkan film yang ingin kami tonton akan diputar pada pukul 20.15. Masih lama, oleh karena itu gue mengajak teman gue untuk berhenti sejenak di Timez*ne. Tentu selain agar tidak ‘garing’ karena menunggu lama di depan loket bioskop, juga karena gue ingin bermain dengan mesin yang melindungi beberapa boneka dari terkaman gue yang sejak beberapa hari lalu ‘ngidam’ memiliki boneka besar.

Tanpa perlu berlama-lama, gue mengisi kartu yang digunakan untuk menyimpan voucher yang diperlukan untuk memainkan mesin-mesin di sana. Lima belas ribu rupiah gue tukarkan dan menuju mesin berukuran tiga kali tiga meter. Mesin pertama ini menyimpan beberapa boneka berukuran besar. Sekali mencoba langsung merasakan sulitnya, lalu gue putuskan untuk bermain dengan mesin yang lebih kecil saja namun juga tetap terasa sulit.

Alhasil, lima belas ribu rupiah gue melayang tanpa membuahkan hasil. Dengan lemah, lesu, lunglai, gue mengajak teman Kamar Sebelah untuk membeli tiket terlebih dahulu agar dapat posisi duduk yang nyaman di dalam theater dan kembbali lagi jika masih ada waktu.

Setelah membeli tiket, gue bertanya pada ‘mbak’ yang menjual, “Sekarang jam berapa ya, mbak?”

“Jam 19.49”, jawabnya.

Yep! masih lama dan gue memutuskan untuk kembali bermain dengan boneka-boneka lagi.

Lima belas ribu gue isi voucher kartu lagi. Beberapa kali main ternyata masih gagal. Meski dengan koordinasi dua orang ternyata cukup sulit.

Pada permainan yang kesekian, gerakan tangan teman Kamar Sebelah sudah seperti tukang parkir saja. Dengan penuh kehati-hatian gue juga menggerakkan penjepit boneka mengikuti komando dari sisi samping. Dan akhirnya, seonggok boneka berwarna kuning terjepit dengan kurang kokoh. Terangkat dan terseret menuju ujung hilir rahim sang mesin. Jantung gue terasa berdetak lebih kencang, akibatnya aliran darah di pembulih juga terasa semakin deras. Jepitan terhenti di pojokan dan mulai terbuka. Boneka terjatuh pada lubang yang sedikit dalam. Yosh!! Tawa gue pecah, semangat gue membara, gue menunduk dan mengambil boneka yang sekarang bisa gue raih dengan tangan. Boneka berwarna kuning itu sekarang jadi milik gue.

Kudanil lucu berwarna kuning, gue tenteng menuju bioskop, dan mesin itu mulai dikerumuni banyak orang yang ingin memiliki peruntungan seperti gue. Sempat melongok mereka sebentar sedang mengalami kegagalan.

Entah euphoria apa yang sedang gue alami, boneka itu terus saja gue tenteng tanpa terpikirkan untuk memsaukkannya ke dalam tas.

“Mas-nya kog bawa boneka?”, sempat pertanyaan seperti itu terlontar dari soerang ibu-ibu di dalam lift.

Lumayan malu.

Gue menginginkan sebuah nama untuk boneka ini.

“Kurosagi”, tanggap teman Kamar Sebelah.

Cocok sih, karena kita memang sedang gencar menikmati dorama berjudul Kurosagi. Namun gue mengganti Kuro yang berarti hitam dengan Kiiro yang berarti kuning. Kiirosagi, atau jika diartikan penipu kuning.

ようこそ!! キーロサギ

Sabtu, 04 Desember 2010

A La[y] Jepang

おなじじゃない 池 は おなじじゃない 魚 が いる。

Penduduk Indonesia yang jumlahnya lebih dari dua ratus juta jiwa tentu menciptakan bentuk interaksi sosial yang bermacam-macam. Mungkin karena hal itu pulalah tercipta suatu sebutan untuk beberapa gelintir orang dengan ciri tertentu, yaitu alay.

Secara ‘definisi’ yang gue peroleh dari posting beberapa blog di dunia maya, alay adalah singkatan dari ‘anak layangan’, dengan asumsi bahwa permainan layangan adalah permainan yang berasal dari kampung, maka anak layangan didefinisikan sebagai anak kampungan. Jadi, alay adalah sebutan untuk muda-mudi yang kampungan, dengan kampungan yang khusus karena beberapa sumber menyebutkan bahwa alay memiliki ciri khusus, mulai dari cara mereka berbusana, berbicara, berfoto, berlaku, bahkan dalam menuliskan pesan.

Dalam posting kali ini gue akan membahas salah satu ciri dari alay yaitu cara atau gaya mereka dalam menuliskan pesan. Walaupun terkadang ketikan pesan mereka sulit untuk dibaca, mereka tetap menuliskan dengan cara mencampurkan huruf kapital, huruf kecil, dan angka. Terkadang kata-kata yang digunakan juga dimodifikasi agar memunculkan kesan imut.

Perhatikan kalimat berikut, ‘Kamu akan selalu ada di tempat terindah di hatiku’ mungkin akan dituliskan menjadi ‘kMuwH 4kk@nD cL4luw 4Dda dY t4 t3riNdaH dY h4ttii kUWh’. Tentu membutuhkan pemikiran lebih untuk membacanya, seperti menterjemahkan ‘4’ yang dibaca sebagai ‘a’ atau sebagai ‘empat’.

Di Jepang juga ada bentuk penulisan yang menggunakan angka dan huruf meski dalam keseharian jarang digunakan. Sebagai contoh:

5men = gomen, angka 5 dibaca sesuai angka Jepang yaitu ‘go’

wata4 = watashi, angka 4 dibaca sesuai angka Jepang yaitu ‘shi’

39 = sankyu, angka 3 dan 9 dibaca sesuai angka Jepang yaitu ‘san’ dan ‘kyu’, sankyu adalah kata serapan dari thankyou dalam bahasa Inggris.

Meskipun berbeda, ternyata bentuk penulisan yang menggabungkan angka dan huruf ternyata ada juga di Jepang,

Aneh memang, tetapi kita harus tahu bahwa dalam berkomunikasi hendaknya kita menggunakan cara yang dapat dipahami lawan sehingga tidak terjadi salah pemahaman.

Sabtu, 30 Oktober 2010

Koara no Ma-chi desu!!

かれ は 日本 で とてもゆうめい です。

かれ の なまえ は コアラマーチ です

Pernah melihat iklan produk ini? Mungkin, bagi kita yang awam mengenai Jepang, iklannya akan terasa biasa saja. Tapi bagi gue, iklan itu begitu menggelitik benak untuk membelinya.

Tak sengaja melihat Koala’s March saat pergi ke sebuah swalayan bersama seorang teman beberapa hari lalu, kami pun memutuskan untuk membeli. Hanya sekedar mencoba sabagai pengobati rasa penasaran.

Tak sabar dengan isinya, kami segera membuka kotak kecil berbentuk prisma segi enam itu. Segeralah munculah koala-koala yang (lumayan) lucu yang tergambar pada permukaan biskuit berisi cokelat dari dalamnya. Mungkin kita tidak akan asing jika kita pernah tahu Hello Panda. Memang mirip, hanya saja bergambar koala. Dan mulailah kami mengomentari satu-persatu gambar lucu pada biscuit yang lama-kelamaan berubah dari lucu menjadi sedikit aneh. Lalu, di mana anehnya?

Menurut sebuah sumber terpercaya yang gue baca, ada lebih dari seratus macam karakter yang tergambar. Tentu kami hanya tahu beberapa, dalam satu bungkus saja terkadang ada gambar yang sama. Dan di antara beberapa gambar, kami sepakat memberikan nama pada sang Koala. Sebagai contoh yaitu:

Koala labil, koala ini tergambar dalam wujud setengah koala dan setengah ikan. Tak salah bukan jika kami menyebutnya labil? Mau jadi apa dia? Koala atau ikan? Haha…

Koala alay, koala yang tergambar mengenakan baju dengan motif kotak-kotak, yang saat sekarang ini motif tersebut banyak dikenakan dan diidentikkan dengan segolongan muda-mudi yang memiliki sebutan alay.

Koala Parto OVJ, koala yang berbusana a la Jawa ini memakai blangkon layaknya Parto saat menjadi dalang di OVJ.

Entah gambarnya yang aneh atau hanya pemikiran kami yang aneh, setidaknya produk ini layak untuk kalian coba sebagai cemilan saat ingin bersantai dan bercanda bersama sanak keluarga atau teman-teman. Cita rasanya mungkin telah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia, jadi mungkin berbeda jika makan yang dari Jepang asli.

Produk ini juga tersedia dalam ukuran sachet, namun di bagian belakang tertulis ‘For Hong Kong Market’, mungkin belum terproduksi di Indonesia karena jika diperhatikan masih sulit ditemukan di pasaran.

Sabtu, 09 Oktober 2010

Sen En

あたらしいともだち、

ぼくに日本のお金をくれました。

ありがとうございました。


Beberapa minggu lalu gue berkunjung ke rumah seorang teman yang gue kenal dari sebuah situs jejaring sosial. Sudah hampir satu tahun kenal, namun belum pernah bertemu. Rasanya sedikit canggung, bukan karena baru pertama bertemu, tapi karena gue bertemu dengan seorang yang sugoi dan benar-benar membuat gue iri. Hehe…

Mungkin cara gue menceritakan tentang dia sedikit berlebihan, tapi mengingat cowok satu itu sedang menempuh pendidikan S1 di Tokyo Daigaku rasanya tidak berlebihan. Ya, dia mendalami TI di universitas ternama di negera yang terkenal dengan bunga sakura itu.

Sebelum mudik pertamanya ke Indonesia kali ini, gue sudah sempat meminta oleh-oleh. Selembar uang kertas dan sebuah uang koin pecahan tertinggi yang sedang digunakan di negara yang memiliki mata uang Yen itu. Tapi, setelah gue tahu nilainya bila dirupiahkan, gue mengurungkan niat. Karena, bila keinginan ini diwujudkan, tak beda jauh gue dengan merampok orang yang sedang mudik lebaran. Haha... pecahan tertinggi adalah 10.000 yang nilainya sekitar satu juta rupiah. Wih..wih..wih..

Setelah cukup lama berbincang dan berbagi pengalaman hidupnya di perantauan, dia mengeluarkan dompet dan mengeluarkan selembar uang 1.000 . Memberikan pada gue sebagai janji oleh-oleh buat gue. Senang. Tanpa pikir panjang gue menerimanya. Beberapa saat kemudian, gue menghitung uang itu jika dirupiahkan.

“SERATUS RIBU RUPIAH?”, ucap gue setengah berteriak.

Bagaimana mungkin dia bisa dengan begitu santai memberikan uang sebesar itu pada gue. Sementara gue sendiri baru kehilangan uang sebesar itu rasanya sedih sekali.

「だいじょうぶですか?」, tanya gue dengan nada malu-malu mau dan tampang memelas.

「だいじょうぶ。。。だいじょうぶ。。。」jawabnya dengan tetap santai.

Yah, akhirnya gue hanya bisa mengucapkan banyak-banyak terima kasih dan berharap suatu saat nanti bisa membalasnya. Oleh-oleh ini akan gue jadikan motivasi dan semangat gue untuk bisa ke Jepang.

Sampai jumpa lagi kawan, sebuah masa depan indah tampak di depan matamu, berjuanglah karena apa yang sedang kau dapat adalah hal langka yang diinginkan banyak orang. Semoga kita bisa bertemu lagi saat kau pulang kampung nanti atau bahkan menikmati hanami bersama-sama.